Guru Besar FISIP UIN Jakarta Jadi Pembicara dalam Peking University Indonesia Forum 2026 di Beijing
Berita FISIP. Kamis 22 Oktober 2026. Beijing, Tiongkok — Guru Besar Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Burhanuddin Muhtadi, Ph.D., menjadi salah satu pembicara dalam Peking University Indonesia Forum (PUIF) 2026 yang diselenggarakan pada 14–20 Oktober 2026 di Peking University, Beijing, Tiongkok.
Forum yang pertama kali diselenggarakan ini mengangkat tema “Indonesia in Transition: Development, Society, and Regional Order” (Indonesia dalam Transisi: Pembangunan, Masyarakat, dan Tatanan Regional). Kegiatan tersebut mempertemukan para akademisi dan pakar Indonesia dari berbagai universitas dan lembaga penelitian internasional untuk mendiskusikan perkembangan politik, ekonomi, sosial, dan hubungan internasional Indonesia.
Diselenggarakan oleh Institute of Country and Region Studies, Peking University, bekerja sama dengan sejumlah lembaga akademik lainnya, PUIF dirancang sebagai wadah pertukaran pengetahuan dan penguatan jejaring akademik antara para pengkaji Indonesia (Indonesianists) dari Tiongkok, Indonesia, Australia, Singapura, dan negara-negara lain.
Rangkaian acaranya cukup beragam, tidak hanya berupa konferensi akademik, tetapi juga Indonesia Cultural Week pada 14–20 Oktober yang menampilkan pameran budaya Indonesia, pemutaran film, serta pertunjukan seni dalam acara Indonesia Night. Selain itu, diselenggarakan Outreach Forum pada 16 Oktober yang mempertemukan akademisi, pengambil kebijakan, pelaku usaha, dan kalangan muda dari Indonesia dan Tiongkok. Forum ini juga mencakup simposium khusus mengenai perkembangan studi Indonesia di Tiongkok pada 19 Oktober.
Konferensi akademik utama berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Minzhu Building, Peking University. Acara dibuka oleh Prof. Zhai Kun dari Peking University, dilanjutkan dengan pidato utama Prof. Budy Resosudarmo dari Australian National University (ANU) mengenai Indonesia Studies in Global Perspective.
Dalam konferensi tersebut, Burhanuddin tampil pada panel pertama bertajuk “Indonesian Politics and Governance” bersama dua ilmuwan politik terkemuka, Prof. Edward Aspinall dari Australian National University dan Prof. Xu Liping dari Chinese Academy of Social Sciences. Panel ini dipandu oleh Prof. Sherry Tao Kong dari Peking University.
Burhanuddin menyampaikan presentasi berjudul “From Mandate to Lame Duck? The Rapid Erosion of President Prabowo's Public Support, and What It Means for Indonesian Politics.” Dalam paparannya, ia menganalisis dinamika dukungan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berdasarkan berbagai survei opini publik nasional.
Presentasi tersebut membahas hubungan antara mandat elektoral, kinerja program-program prioritas pemerintah, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi, serta gaya kepemimpinan dan komunikasi politik pemerintah. Burhanuddin juga mengulas bagaimana perubahan dukungan publik dapat memengaruhi hubungan antarelite, soliditas koalisi pemerintahan, dan dinamika politik Indonesia menjelang Pemilu 2029.
Selain panel politik dan pemerintahan, konferensi ini menghadirkan tiga panel akademik lainnya. Panel kedua, “Indonesia's Economic Transformation”, menampilkan Lili Yan Ing dari International Economic Association, Maria Monica Wihardja dari ISEAS–Yusof Ishak Institute, dan Sherry Tao Kong dari Peking University. Panel ketiga, “Indonesia in Regional and Global Context”, membahas posisi Indonesia dalam hubungan regional dan internasional. Sementara itu, panel keempat, “Indonesian Society, Culture, and History”, menghadirkan Semiarto Aji Purwanto dari Universitas Indonesia, Greg Fealy dari Australian National University, dan Xie Kankan dari Peking University.
Burhanuddin mengaku bersyukur mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam forum perdana yang mempertemukan para pakar Indonesia dari berbagai negara tersebut. “Saya merasa sangat bersyukur diundang dalam acara perdana Peking University Indonesia Forum. Acaranya sangat beragam, mulai dari pekan budaya Indonesia hingga konferensi akademik yang mempertemukan para Indonesianists dari berbagai negara. Saya satu panel dengan Edward Aspinall dari ANU dan Xu Liping dari Chinese Academy of Social Sciences. Saya juga sangat menikmati presentasi para narasumber lainnya, seperti Greg Fealy, Maria Monica Wihardja, Xie Kankan, Lili Yan Ing, Sherry Tao Kong, dan banyak akademisi lainnya,” ungkap Burhanuddin.
Menurutnya, forum semacam ini penting untuk memperkuat dialog akademik dan membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai Indonesia, terutama di tengah semakin eratnya hubungan Indonesia dan Tiongkok. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring penelitian dan kerja sama akademik lintas negara.
Partisipasi Burhanuddin dalam forum ini menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam percakapan ilmiah internasional mengenai perkembangan politik dan masyarakat Indonesia, sekaligus memperluas jejaring keilmuan dengan berbagai institusi terkemuka di dunia.
