FISIP UIN Jakarta Gelar Friday Talk Bahas Metodologi Survei Opini Publik dan Approval Rating Presiden
FISIP UIN Jakarta Gelar Friday Talk Bahas Metodologi Survei Opini Publik dan Approval Rating Presiden

Berita FISIP. Jumat 23 Oktober 2026 - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menyelenggarakan diskusi Friday Talk secara daring pada Jumat (23/10/2026). Mengangkat tema “People, Pollsters and the President: A Methodological Perspective”, kegiatan ini membahas metodologi survei opini publik, khususnya dalam memahami hasil survei tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja presiden (approval rating).

Diskusi menghadirkan Deni Irvani, Executive Director Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), sebagai narasumber. Kegiatan dipandu oleh Prof. Iim Halimatusa’diyah dan dibuka dengan pengantar dari Dekan FISIP UIN Jakarta, Prof. Dr. Dzuriyatun Toyibah. Forum ini terbuka untuk umum sebagai ruang diskusi akademik mengenai hasil survei politik yang menjadi perhatian masyarakat.

Mengulas Perbedaan Hasil Survei dan Kepercayaan Publik

Dalam pengantarnya, Dekan FISIP UIN Jakarta menekankan pentingnya penjelasan metodologis terhadap perbedaan hasil survei yang dirilis sejumlah lembaga, meskipun dilakukan dalam periode yang berdekatan dan membahas isu serupa. Menurutnya, pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi akademik serta menjaga kepercayaan publik terhadap hasil penelitian. Diskusi kemudian diarahkan pada dua persoalan utama, yakni penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap presiden serta kemungkinan munculnya perbedaan hasil di antara lembaga survei. Melalui forum ini, peserta diajak untuk tidak hanya memperhatikan angka yang dipublikasikan, tetapi juga memahami proses ilmiah yang melatarbelakangi hasil survei.

Deni Irvani Paparkan Metode dan Pengawasan Kualitas Survei

Dalam pemaparannya, Deni Irvani menjelaskan bahwa survei opini publik berperan dalam memberikan gambaran mengenai sikap dan perilaku politik masyarakat. Informasi tersebut dapat menjadi salah satu dasar untuk memahami penilaian masyarakat terhadap pemerintah dalam sistem demokrasi. Deni turut memaparkan metode survei yang digunakan SMRC dalam riset terbarunya. Survei tersebut melibatkan 1.213 responden dengan perkiraan margin of error sebesar 2,9 persen. Pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi survei telepon dan wawancara tatap muka untuk menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki maupun tidak memiliki telepon seluler. Ia juga menjelaskan sejumlah tahapan pengendalian kualitas, mulai dari seleksi dan pelatihan pewawancara, pemantauan pengumpulan data, verifikasi hasil wawancara, hingga pembersihan dan validasi data. Penyesuaian sampel melalui pembobotan juga dilakukan agar karakteristik responden mendekati komposisi populasi yang diteliti. Terkait perbedaan hasil survei, Deni menerangkan bahwa margin of error dan tingkat kepercayaan perlu diperhatikan dalam membaca temuan penelitian. Perbedaan angka yang cukup jauh perlu ditelaah lebih lanjut dengan mempertimbangkan kemungkinan kesalahan sistematis serta proses pelaksanaan survei.

Diskusi tentang Transparansi dan Integritas Lembaga Survei

Sesi diskusi berlangsung dengan membahas berbagai persoalan, termasuk potensi manipulasi data, sumber pendanaan survei, perbedaan teknik pengambilan sampel, serta upaya menjaga independensi dan kredibilitas lembaga survei. Dalam sesi tersebut, Deni menekankan pentingnya integritas pelaksana survei dan rekam jejak lembaga dalam menilai kredibilitas hasil penelitian. Ia juga menyampaikan bahwa pemeriksaan terhadap proses survei dan keterlibatan komunitas ilmiah dapat menjadi bagian dari upaya menjaga akuntabilitas penelitian. Sejumlah peserta turut menyoroti pentingnya keterbukaan metodologi agar masyarakat dapat memahami dasar dari hasil survei yang dipublikasikan. Diskusi juga mengangkat perlunya mekanisme pengawasan yang mampu mendorong pelaksanaan penelitian secara bertanggung jawab.

Melalui penyelenggaraan Friday Talk, FISIP UIN Jakarta berupaya menghadirkan ruang pertukaran gagasan yang kritis dan berbasis ilmiah. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman publik terhadap survei opini politik, sekaligus mendorong budaya akademik yang menjunjung tinggi transparansi, integritas, dan pertanggungjawaban metodologis.(Riani)