Buka Bersama dan Diskusi Dosen FISIP UIN Jakarta; Targetkan Peningkatan Skor SINTA Dosen
Berita FISIP, Rabu, 11 Maret 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar acara Buka Puasa Bersama yang sekaligus menjadi momentum penguatan performa akademik fakultas. Dalam pertemuan tersebut, membahas mengenai strategi meningkatkan skor Science and Technology Index (SINTA) di lingkungan akademik FISIP.
Dekan FISIP, Prof. Dr. Dzuriyatun Toyibah, M.A., dalam arahannya menekankan bahwa skor SINTA bukan sekadar angka, melainkan cerminan produktivitas karya akademik dosen. Beliau menegaskan agar setiap dosen FISIP memiliki standar skor minimum sesuai dengan yang ditargetkan oleh Universitas.
"Karya akademik adalah mesin utama yang membuat skor kita naik. Saya berharap tidak ada lagi dosen di lingkungan FISIP yang memiliki skor SINTA terlalu rendah. Ini adalah tanggung jawab profesional kita sebagai pendidik dan peneliti," ujar Prof. Dzuriyatun.
Beliau juga menyoroti fluktuasi peringkat yang dialami program studi Ilmu Politik. Sempat menduduki peringkat pertama, posisi tersebut kini berada di peringkat keempat. Penurunan ini dipengaruhi oleh dinamika internal, seperti pembukaan program Magister serta perpindahan homebase sejumlah Guru Besar yang berdampak pada akumulasi skor fakultas.
Acara dilanjutkan dengan pemaparan teknis oleh Waqi Ats Tsaqofi M.A. dari LP2M UIN, yang menjabarkan strategi praktis bagi dosen untuk memperbaiki profil SINTA mereka. Secara umum, skor SINTA dihitung berdasarkan kinerja tiga tahun terakhir (Overall) yang mencakup publikasi, sitasi, penelitian, dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Beberapa poin strategi yang ditekankan antara lain:
- Optimalisasi Publikasi: Menyeimbangkan kualitas dan kuantitas publikasi. Dosen didorong membidik jurnal internasional bereputasi (Scopus atau Web of Science) dengan mengejar kuartil tinggi (Q1 hingga Q4).
- Target Jurnal Nasional: Memastikan publikasi nasional masuk dalam kategori SINTA 1 atau SINTA 2 untuk mendapatkan poin yang signifikan.
Acara dilanjut dengan Kultum menjelang waktu berbuka, oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin memberikan kultum yang menyentuh sisi spiritualitas dan geopolitik. Beliau menjelaskan etimologi Ramadhan yang berarti "panas terik". Dalam ulasannya, Prof. Din menceritakan tradisi masyarakat Arab kuno yang menghormati bulan-bulan suci (seperti Rajab) dengan menghentikan peperangan. Namun, beliau menyayangkan realitas dunia saat ini di mana konflik justru memanas di bulan suci, seperti ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Pesan ini menjadi pengingat bagi hadirin untuk menjaga kedamaian dan esensi kesucian bulan Ramadhan di tengah tantangan global.
Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah antar sivitas akademika FISIP, memperkuat silaturahmi sekaligus komitmen untuk membawa fakultas menuju keunggulan akademik yang lebih tinggi. (Marniza)
