Winston Churchill: Penyelamat Inggris pada Perang Dunia II
Penulis : Robi Sugara M.Sc (Ka. Prodi Ilmu Hubungan Internasional FISIP)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut Winston Churchill sebagai bentuk ungkapan kekecewaannya kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, atas keputusan penolakannya menggunakan pangkalan militer Inggris dalam serangan terhadap Iran.
Siapa Winston Churchill?
Winston Churchill adalah negarawan, penulis, dan orator asal Inggris yang lahir pada 30 November 1874. Ia dikenal sebagai Perdana Menteri Britania Raya saat Perang Dunia II dan menjadi simbol perlawanan terhadap Nazi Jerman. Kepemimpinannya ditandai dengan pidato-pidato yang membakar semangat rakyat Inggris pada masa-masa paling tidak menentu akibat perang dunia.
Sebelum menjadi perdana menteri, Winston Churchill memiliki karier panjang sebagai perwira militer, wartawan perang, dan politisi di Parlemen Inggris. Ia pernah menjabat berbagai posisi penting, termasuk First Lord of the Admiralty saat Perang Dunia I. Pengalaman politik dan militernya yang luas membentuk gaya kepemimpinannya yang tegas dan penuh determinasi.
Pada tahun 1940, ia dengan tegas menolak segala bentuk negosiasi damai dengan Adolf Hitler dari Jerman dan memilih terus melawan meskipun Inggris berada dalam ancaman invasi besar-besaran.
Setelah Perang Dunia II berakhir, Churchill tetap berpengaruh dalam politik internasional dan memperingatkan dunia tentang ancaman “Tirai Besi” dari Uni Soviet. Pada tahun 1953, ia menerima Hadiah Nobel Sastra atas karya-karya sejarah dan pidatonya yang monumental. Churchill wafat pada 24 Januari 1965 dan dikenang sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh abad ke-20.
Kontroversi Churchill
Winston Churchill adalah tokoh besar dalam sejarah dunia, tetapi juga penuh kontroversi. Salah satu kritik utama terhadapnya adalah pandangannya yang dianggap mendukung imperialisme dan superioritas ras Anglo-Saxon. Sikapnya terhadap bangsa-bangsa jajahan membuat banyak sejarawan menilai bahwa ia memiliki pandangan kolonial yang keras dan tidak simpatik terhadap gerakan kemerdekaan.
Ia menolak tuntutan kemerdekaan India pada 1930-an serta mendukung keberlanjutan kekuasaan Inggris di koloni-koloni Afrika dan Asia.
Kontroversi besar lainnya berkaitan dengan kebijakan Inggris saat Kelaparan Bengal tahun 1943 di India. Banyak pihak menilai keputusan pemerintah Inggris saat itu, yang dipimpin Churchill, memperburuk kondisi kelaparan yang menewaskan jutaan orang. Para pengkritiknya menuduh bahwa prioritas perang dan kebijakan distribusi pangan menunjukkan kurangnya empati terhadap rakyat India. Diperkirakan korban kelaparan di Bengal tahun 1943 mencapai sekitar 2–3 juta orang.
Selain itu, Churchill juga dikritik atas perannya dalam kampanye Gallipoli pada Perang Dunia I yang berakhir dengan kegagalan besar dan banyak korban jiwa. Keputusan strategis tersebut membuat reputasinya sempat merosot dan ia harus mundur dari jabatan First Lord of the Admiralty pada tahun 1915.
Meskipun kemudian ia kembali berkuasa dan dikenang sebagai pahlawan perang, bayang-bayang kontroversi itu tetap menjadi bagian dari warisannya. Dalam kampanye Gallipoli tahun 1915–1916, sekitar 250.000 korban jatuh di pihak Sekutu dan sekitar 250.000 di pihak Utsmani, termasuk puluhan ribu yang tewas.
Sumbangan Churchill bagi Kerajaan Inggris
Winston Churchill memberikan sumbangan besar bagi Inggris, terutama saat menjabat sebagai Perdana Menteri pada tahun 1940–1945 selama Perang Dunia II. Ia memimpin Inggris pada saat genting setelah jatuhnya Prancis ke tangan Nazi Jerman dan ancaman invasi semakin nyata.
Melalui pidato-pidatonya yang terkenal, seperti “We shall fight on the beaches” pada 4 Juni 1940, ia berhasil membangkitkan moral rakyat Inggris untuk terus bertahan. Ungkapan tersebut bukan berarti secara harfiah bertempur di pantai, tetapi menjadi simbol tekad dan perlawanan total rakyat Inggris dalam mempertahankan negaranya dari ancaman invasi.
Churchill juga berperan penting dalam membangun aliansi strategis dengan Franklin D. Roosevelt dari Amerika Serikat dan Joseph Stalin dari Uni Soviet. Kerja sama ini memperkuat Blok Sekutu dalam menghadapi kekuatan Poros yang dipimpin Adolf Hitler. Diplomasi dan koordinasi militernya membantu memastikan Inggris tetap menjadi kekuatan utama dalam kemenangan Sekutu pada tahun 1945.
Selain kepemimpinan militer dan diplomatik, Churchill juga berkontribusi dalam memperkuat identitas nasional Inggris. Ia menanamkan semangat ketahanan (British resilience) yang menjadi simbol persatuan rakyat selama pengeboman Blitz di London. Warisannya sebagai pemimpin masa perang menjadikan Inggris tetap berdiri kokoh sebagai negara demokrasi di tengah ancaman totalitarianisme di Eropa.
Hubungan Churchill dengan Amerika Serikat
Winston Churchill menjalin hubungan sangat erat dengan Amerika Serikat sejak awal Perang Dunia II, bahkan sebelum negara itu resmi ikut berperang. Pada tahun 1940–1941, ia aktif berkomunikasi dengan Presiden AS, Franklin D. Roosevelt, untuk memperoleh dukungan militer dan logistik bagi Inggris yang saat itu berdiri sendiri melawan Nazi Jerman.
Hubungan pribadi yang hangat antara keduanya menjadi fondasi kerja sama strategis kedua negara.
Salah satu bentuk konkret hubungan tersebut adalah program Lend-Lease tahun 1941, di mana Amerika Serikat memasok senjata, kapal, dan bahan perang kepada Inggris. Kebijakan ini sangat membantu Inggris mempertahankan diri sebelum dan sesudah AS resmi masuk perang setelah serangan ke Pearl Harbor pada Desember 1941.
Dukungan industri dan ekonomi Amerika memperkuat posisi Inggris dalam menghadapi tekanan militer Jerman.
Churchill dan Roosevelt juga merumuskan visi bersama tentang tatanan dunia pascaperang melalui Piagam Atlantik (Atlantic Charter) pada Agustus 1941. Dokumen tersebut menegaskan prinsip-prinsip seperti hak menentukan nasib sendiri dan kerja sama internasional.
Kerja sama erat Inggris–AS selama perang inilah yang kemudian menjadi dasar hubungan special relationship antara kedua negara di era modern.
Karena itu, ketika Presiden AS Donald Trump menyebut Winston Churchill, ia seolah ingin mengingatkan kembali pentingnya sejarah hubungan erat antara Inggris dan Amerika Serikat.
Trump menyinggung bahwa pada masa Perang Dunia II, Inggris berada dalam posisi sangat terancam oleh Nazi Jerman, dan dukungan besar dari AS—baik dalam bentuk bantuan militer maupun logistik—membantu Inggris bertahan hingga akhirnya memenangkan perang.
Dalam konteks ketegangan antara AS, Israel, dan Iran saat ini, keputusan Inggris untuk terlibat secara langsung atau menjaga jarak dari operasi militer tersebut dipandang berpotensi memengaruhi dinamika koalisi serta efektivitas strategi Amerika Serikat di kawasan.
Artikel telah di publikasikan pada hari kamis, 05 Maret 2026 pada berita online inilah.com link : https://www.inilah.com/winston-churchill-penyelamat-inggris-pada-perang-dunia-ii
