Viralitas TikTok dalam Perspektif Goffman
Penulis : Khoirunnisa Iskandar (Mahasiswa Prodi Sosiologi Semester 4 FISIP UIN Jakarta)
Perkembangan media sosial belakangan ini telah mengubah cara seseorang berkomunikasi, mengekspresikan diri, sekaligus memperoleh pengakuan sosial. Salah satu platform yang sangat berpengaruh dalam membentuk pola tersebut adalah TikTok. Platform ini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga arena kompetisi di mana individu berlomba-lomba menarik perhatian publik. Dalam konteks ini muncul ungkapan populer di kalangan konten kreator: “kalau tidak aneh, tidak viral.” Ungkapan tersebut seolah menjadi prinsip tidak tertulis yang mendorong lahirnya berbagai konten yang semakin ekstrem, kontroversial, bahkan kadang melampaui batas etika.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan sosiologis yang menarik: mengapa keanehan, kontroversi, atau perilaku yang tidak biasa justru menjadi strategi yang efektif untuk meraih popularitas di media sosial? Mengapa audiens, khususnya generasi muda, cenderung memberikan perhatian besar pada konten semacam itu?
Salah satu kunci untuk memahami fenomena ini adalah konsep ekonomi perhatian (attention economy). Dalam masyarakat digital, perhatian publik merupakan sumber daya yang sangat berharga. Konten kreator tidak hanya bersaing dalam kualitas informasi, tetapi juga dalam kemampuan memancing rasa penasaran dan emosi audiens. Semakin banyak perhatian yang diperoleh melalui views, likes, komentar, atau shares semakin besar pula peluang seseorang untuk memperoleh keuntungan simbolik maupun ekonomi. Dalam kerangka ini, keanehan dan kontroversi menjadi alat yang efektif karena mampu memicu reaksi cepat dari pengguna media sosial.
Algoritma platform digital juga memperkuat dinamika tersebut. Algoritma cenderung mempromosikan konten yang menghasilkan interaksi tinggi. Konten yang memancing kemarahan, kebingungan, atau perdebatan sering kali justru mendapatkan jangkauan yang lebih luas dibandingkan konten yang bersifat informatif tetapi “biasa saja.” Akibatnya, kreator konten terdorong untuk terus meningkatkan tingkat keunikan atau bahkan keganjilan dari konten yang mereka buat agar tetap relevan dalam arus informasi yang sangat cepat.
Media Sosial menurut Goffman
Fenomena konten kontroversial di media sosial dapat dianalisis melalui teori dramaturgi yang dikemukakan oleh Erving Goffman. Menurut Goffman, kehidupan sosial dapat dipahami seperti sebuah pertunjukan teater. Individu memainkan peran tertentu di “panggung depan” (front stage) untuk membangun kesan tertentu di hadapan audiens, sementara kehidupan pribadi yang lebih autentik berada di “panggung belakang” (back stage). Dalam media sosial, akun digital seseorang dapat dianggap sebagai panggung depan di mana identitas dipertunjukkan secara strategis.
Dengan menggunakan kerangka tersebut, perilaku yang tampak kontroversial atau tidak etis di media sosial belum tentu sepenuhnya merepresentasikan kepribadian asli individu tersebut. Bisa jadi perilaku tersebut merupakan bagian dari strategi performatif untuk membangun citra tertentu yang menarik perhatian audiens. Dalam banyak kasus, kreator konten sengaja membentuk karakter yang provokatif, eksentrik, atau bahkan absurd sebagai identitas digital yang mudah dikenali. Identitas semacam ini kemudian menjadi branding yang memudahkan audiens mengingat dan membicarakan mereka.
Pierre Bourdieu dan Modal Simbolik
Selain dramaturgi, fenomena ini juga dapat dipahami melalui konsep modal simbolik yang diperkenalkan oleh Pierre Bourdieu. Dalam masyarakat modern, pengakuan sosial merupakan bentuk modal yang sangat penting. Popularitas di media sosial dapat diterjemahkan menjadi berbagai keuntungan lain, seperti peluang kerja sama komersial, peningkatan pengaruh sosial, atau bahkan akses ke kesempatan pendidikan dan profesional yang lebih luas. Dengan kata lain, viralitas dapat dikonversi menjadi bentuk kapital lain.
Hal ini menjelaskan mengapa sebagian kreator konten bersedia mengambil risiko reputasi atau kritik publik. Selama strategi tersebut mampu meningkatkan visibilitas dan popularitas mereka, keuntungan yang diperoleh sering kali dianggap lebih besar dibandingkan kerugian sosial yang mungkin muncul. Dalam logika ini, kontroversi bukanlah kegagalan komunikasi, melainkan bagian dari strategi komunikasi itu sendiri.
Namun demikian, dinamika ini tidak dapat dilepaskan dari peran audiens. Dalam sosiologi komunikasi, audiens tidak dipandang sebagai pihak yang pasif. Sebaliknya, mereka turut berperan dalam membentuk makna dan menentukan konten apa yang dianggap menarik. Ketika pengguna media sosial secara konsisten memberikan perhatian besar pada konten yang sensasional atau tidak biasa, mereka secara tidak langsung memperkuat pola produksi konten tersebut.
Fenomena ini menjadi lebih kompleks ketika melibatkan generasi yang lebih muda, termasuk anak-anak dan remaja. Dalam banyak kasus, mereka belum sepenuhnya memiliki kemampuan literasi media yang memadai untuk membedakan antara performa digital dan realitas kehidupan seseorang. Akibatnya, karakter yang sebenarnya bersifat performatif dapat dipersepsikan sebagai sosok yang autentik dan layak ditiru.
Menurut Sudut Pandang Sosiologi
Dari sudut pandang sosiologi budaya, kondisi ini juga menunjukkan bagaimana media sosial berperan dalam membentuk standar baru mengenai apa yang dianggap menarik, lucu, atau layak diperhatikan. Batas antara hiburan dan penyimpangan sosial menjadi semakin kabur. Hal-hal yang sebelumnya dianggap tidak pantas atau tidak etis dapat berubah menjadi bagian dari budaya populer ketika diproduksi dan dikonsumsi secara masif.
Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa tidak semua kreator konten mengikuti pola tersebut. Banyak juga individu yang tetap berusaha memproduksi konten edukatif, inspiratif, atau informatif tanpa harus mengandalkan sensasi. Namun tantangan yang mereka hadapi sering kali lebih besar karena harus bersaing dengan konten yang dirancang secara eksplisit untuk memicu reaksi emosional audiens. Fenomena ini menunjukkan bahwa viralitas di media sosial bukan semata-mata persoalan kreativitas individu, tetapi juga hasil interaksi kompleks antara algoritma platform, strategi kreator, serta preferensi audiens.
Dalam konteks akademik, kajian mengenai budaya viral di media sosial membuka ruang diskusi yang luas bagi ilmu sosiologi. Media digital tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga arena produksi identitas, distribusi kekuasaan simbolik, serta pembentukan nilai-nilai sosial baru. Dengan demikian, fenomena “keanehan yang viral” dapat dipahami sebagai gejala dari perubahan struktur sosial di era digital, di mana perhatian publik menjadi komoditas yang diperebutkan.
Literasi Media sebagai Tantangan Sosial
Melihat fenomena tersebut, penting bagi masyarakat untuk mengembangkan sikap yang lebih kritis terhadap budaya viral di media sosial. Viralitas tidak selalu identik dengan kualitas atau nilai positif dari sebuah konten. Dalam banyak kasus, viralitas justru lahir dari kemampuan konten tersebut memancing emosi publik.
Oleh karena itu, literasi media menjadi hal yang sangat penting di era digital. Kemampuan untuk memahami bagaimana identitas digital dikonstruksi, bagaimana algoritma bekerja, serta bagaimana perhatian publik dapat dimanfaatkan sebagai komoditas menjadi bekal penting bagi masyarakat modern.
Pada akhirnya, fenomena konten viral yang semakin ekstrem tidak dapat dipahami hanya sebagai perilaku individu semata. Ia merupakan bagian dari dinamika sosial yang lebih luas sebuah konsekuensi dari pertemuan antara teknologi digital, strategi performatif individu, serta logika ekonomi perhatian yang berkembang dalam masyarakat digital.
