Mubadalah Goes to Community
Berita FISIP. Selasa 06 Oktober 2026 - Kegiatan Mubadalah Goes to Community dengan tema “Pelatihan Menulis Populer dan Literasi Media Sosial untuk Komunitas” berlangsung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.
Salah satu sesi dalam kegiatan tersebut menghadirkan Lutfiana Dwi Mayasari, M.H., M.Si., peneliti, kontributor Mubadalah.id, dan bagian dari jaringan KUPI, sebagai narasumber.
Dalam materinya, Lutfiana menjelaskan mengenai Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). KUPI diperkenalkan sebagai gerakan yang mengakui otoritas keilmuan perempuan dalam penafsiran, pengambilan fatwa, dan penyelesaian persoalan umat.
Lutfiana memaparkan lima alasan yang menjadi latar belakang lahirnya KUPI, yaitu dominasi perspektif laki-laki, kontribusi perempuan yang kurang diakui, meningkatnya kesadaran gender, persoalan perempuan yang membutuhkan respons, serta kebutuhan terhadap penafsiran yang lebih inklusif.
Materi selanjutnya membahas Trilogi KUPI, yang terdiri atas Ma’ruf, Mubadalah, dan Keadilan Hakiki.
Dalam materi tersebut, Ma’ruf dijelaskan sebagai ukuran kebaikan berdasarkan syariat, akal sehat, dan norma sosial yang dapat diterima serta membawa kemaslahatan. Mubadalah menekankan kesalingan dengan menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai subjek yang setara, sementara kebaikan dan tanggung jawab berlaku secara timbal balik.
Sementara itu, Keadilan Hakiki mempertimbangkan pengalaman biologis dan sosial perempuan dalam penafsiran dan perumusan hukum.
Ketiga pendekatan tersebut kemudian dijelaskan sebagai tiga pendekatan yang saling melengkapi dalam membaca teks, dengan masing-masing menekankan ukuran kebaikan, prinsip kesalingan, dan pengalaman nyata perempuan.
Pemaparan mengenai KUPI dan pendekatan dalam membaca teks tersebut menjadi salah satu materi dalam rangkaian Mubadalah Goes to Community di FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan yang berlangsung pada 6–7 Oktober 2026 ini mengusung tema “Pelatihan Menulis Populer dan Literasi Media Sosial untuk Komunitas.”(Riani)
