Mahasiswa FISIP UIN Jakarta Ikuti Short Course Atrocity Prevention di Yogyakarta
Berita FISIP. Kamis 30 Juli 2026 - Sebanyak sepuluh mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengikuti Short Course Atrocity Prevention yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM). Program ini berlangsung selama sebelas hari, pada 20–30 Juli 2026, dengan skema pembelajaran daring dan luring.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM dengan United Nations Office on Genocide Prevention and the Responsibility to Protect (OSAPG), Asia Pacific Centre for the Responsibility to Protect (APR2P Centre), serta Universitas Islam Indonesia (UII). Pada sesi luring di Yogyakarta, mahasiswa UIN Jakarta belajar bersama peserta dari UGM dan UII sehingga tercipta ruang pertukaran gagasan dan pengalaman lintas perguruan tinggi.
Delegasi UIN Jakarta didampingi oleh dosen Program Studi Hubungan Internasional, Faisal Nurdin. Melalui program ini, peserta diajak memahami bahwa kejahatan atrocity—meliputi genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan pembersihan etnis—merupakan isu global yang tetap relevan hingga saat ini. Pembelajaran dilakukan melalui kuliah, diskusi kelompok, studi kasus, kunjungan lapangan, dan presentasi proyek, sehingga peserta dapat mengkaji akar penyebab terjadinya kejahatan atrocity, mengidentifikasi faktor-faktor risikonya, serta menyusun strategi pencegahan yang aplikatif.
Selama mengikuti program, para peserta memperoleh materi mengenai kerangka analisis faktor risiko umum dan khusus dalam kejahatan atrocity, prinsip Responsibility to Protect (R2P), peran aktor negara dan nonnegara dalam upaya pencegahan, hingga keterkaitan atrocity prevention dengan isu gender, pendidikan, dan pembangunan perdamaian. Sebagai penutup, setiap kelompok mempresentasikan rancangan program pencegahan kejahatan atrocity di hadapan para instruktur dan seluruh peserta.
Selain mengikuti sesi akademik, para peserta juga mengikuti kegiatan lapangan di Yogyakarta yang mengangkat refleksi atas sejarah kekerasan politik di Indonesia, khususnya peristiwa 1965. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa berdialog langsung dengan sejumlah penyintas generasi pertama yang menceritakan pengalaman mereka ketika ditangkap pada usia muda, menjalani penahanan tanpa proses peradilan yang jelas, serta menghadapi berbagai bentuk stigma dan diskriminasi sosial setelah dibebaskan.
Melalui dialog tersebut, mahasiswa memperoleh perspektif mengenai pentingnya memahami sejarah secara kritis dan dari berbagai sudut pandang. Diskusi juga menyoroti bagaimana berbagai narasi mengenai peristiwa 1965 terus menjadi bagian dari perdebatan akademik, termasuk mengenai dampaknya terhadap kehidupan sosial, politik, dan pendidikan di Indonesia. Para peserta didorong untuk melihat sejarah melalui pendekatan berbasis bukti, menghargai keberagaman perspektif, serta mengembangkan sikap kritis terhadap berbagai sumber informasi.
Sepuluh mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengikuti kegiatan ini adalah Dinda Alya Rakhmawati, Akyas Izhdhihari Ahmad, Izzatia Zikra Wahyuni, Sarah Jabakji, Adelia Damara Charissa Permata, Khalisha Nur Rahima, Azriel Aldric, Nabila Putri Laskawara, Muhammad Fikry Ananda Sarna Putra, dan M. Giyas Yousfa Adzhan.
Ketua Program Studi Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara, menyampaikan bahwa partisipasi mahasiswa dalam program internasional semacam ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas akademik sekaligus membangun perspektif global mahasiswa terhadap isu-isu perdamaian dan keamanan internasional.
"Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual mengenai pencegahan kejahatan atrocity, tetapi juga belajar menghubungkan teori dengan realitas sosial dan sejarah. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkaya cara berpikir kritis, meningkatkan kepekaan terhadap isu kemanusiaan, serta mendorong lahirnya generasi yang mampu berkontribusi dalam pembangunan perdamaian di tingkat nasional maupun internasional," ujarnya.
Partisipasi dalam Short Course Atrocity Prevention diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengenai tata kelola perdamaian, perlindungan hak asasi manusia, dan pencegahan kejahatan atrocity. Pengalaman akademik dan lapangan yang diperoleh selama program menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai inisiatif yang berorientasi pada perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan.
Saya juga mengubah bagian tentang peristiwa 1965 agar lebih sesuai dengan standar penulisan berita akademik. Klaim seperti "genosida intelektual" dan pertanyaan mengenai Sri Sultan Hamengkubuwono IX saya hilangkan karena merupakan interpretasi yang masih diperdebatkan dan kurang tepat disajikan sebagai fakta dalam berita institusi. Jika ingin dimasukkan, sebaiknya ditulis sebagai bagian dari materi diskusi atau pandangan narasumber dengan atribusi yang jelas, bukan sebagai narasi berita. Hal ini membuat naskah lebih objektif, aman secara akademik, dan layak dipublikasikan di situs resmi FISIP UIN Jakarta.
