KULIAH UMUM : 25 Year Reform : Sociological Dynamics of Muslim Democracy
KULIAH UMUM : 25 Year Reform : Sociological Dynamics of Muslim Democracy

Berita FISIP. Jumat 21 November 2025 - Indonesia kembali mendapat perhatian dari dunia internasional. Kali ini datang dari Robert William Hefner, atau yang lebih akrab disapa Bob Hefner, seorang profesor antropologi dari Boston University. Dalam kuliah umum di FISIP UIN Jakarta pada Jumat, 21 November 2025, Hefner menyebut Indonesia sebagai contoh negara mayoritas Muslim yang berhasil menjalankan demokrasi secara efektif.

Menurut Hefner, ada dua keistimewaan utama yang membuat demokrasi Indonesia berjalan stabil.

Pertama, kuatnya organisasi masyarakat sipil. Ia menyoroti peran Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai dua organisasi civil society terbesar di dunia. Kedua organisasi ini dinilai menjadi “jantung” masyarakat sipil Indonesia. Dulu, civil society sering dipahami sebagai kekuatan yang berada di luar negara untuk membatasi kekuasaan pemerintah. Namun kini, kata Hefner, perannya berkembang. NU dan Muhammadiyah tidak hanya bekerja di luar sistem, tetapi juga aktif memberi arah dalam kebijakan publik dan praktik pemerintahan.

Kedua, karakter demokrasi Indonesia yang inklusif. Hefner melihat bahwa Indonesia membuka ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat dan ide. Tidak ada batasan identitas. Semua orang punya hak yang sama untuk bersuara. Pandangan ini dekat dengan gagasan sosiolog Jürgen Habermas tentang pentingnya kesetaraan dalam kehidupan demokratis.

Hefner menekankan konsep “diferensiasi demokrasi”. Artinya, demokrasi tidak harus punya satu wajah saja. Demokrasi bisa tumbuh dengan warna lokal, mengikuti nilai-nilai yang hidup di masyarakat. Karena itu, model demokrasi Indonesia bisa berbeda dari negara lain, namun tetap sah dan berhasil. Kuncinya adalah pengakuan terhadap keragaman dan kesetaraan, yang memberi ruang bagi setiap warga untuk ikut berpartisipasi.

Menurut Hefner, kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan negaranya mengakui perbedaan tersebut. Ketika semua orang punya kesempatan adil untuk bersuara, demokrasi dapat berkembang. Dan kondisi ini, menurutnya, difasilitasi oleh keberadaan NU dan Muhammadiyah yang memainkan peran besar dalam menjaga ruang publik tetap terbuka dan sehat.

Meski begitu, Hefner juga mengingatkan perlunya kritik konstruktif terhadap organisasi besar yang kini banyak masuk ke dalam pemerintahan. Keterlibatan tersebut harus tetap diawasi agar tidak melemahkan demokrasi, melainkan memperkuatnya.

Di akhir kuliah umumnya, Hefner menyatakan bahwa ia optimistis terhadap masa depan demokrasi Indonesia. Baginya, Indonesia telah menunjukkan kepada dunia bahwa negara dengan mayoritas penduduk Muslim dapat mengelola demokrasi secara matang, terbuka, dan inklusif.

Kuliah umum ini menjadi bagian dari perayaan 25 tahun reformasi di Indonesia, sekaligus momentum untuk menegaskan kembali pentingnya masyarakat sipil, kesetaraan, dan ruang publik yang sehat dalam menjaga demokrasi tetap hidup. (Ahmad Abrori)