Giddens dan Ngopi ala Gen Z
Penulis : Siti Nur Aisyah Al Amin (Mahasiswa Sosiologi FISIP UIN Jakarta)
Kita tahu, di banyak kota di Indonesia hari-hari ini, kedai kopi tidak pernah benar-benar sepi. Sejak pagi hingga malam, kursi-kursi di kdeai kopi alias kafe dipenuhi anak muda yang datang bukan hanya untuk minum kopi, tetapi juga untuk bekerja dengan laptop, berdiskusi, memotret latte art, atau sekadar duduk sambil membuka media sosial. Fenomena ini sangat lekat dengan Generasi Z. Ngopi bukan lagi sekadar aktivitas minum kopi, melainkan sebuah gaya hidup, bahkan cara membangun identitas diri.
Jika kita amati lebih jauh, kebiasaan ngopi ala Gen Z ini sesungguhnya menyimpan cerita sosial yang menarik. Di sinilah teori sosial menjadi relevan. Salah satu kacamata yang cukup tajam untuk membaca fenomena ini adalah teori strukturasi Anthony Giddens, seorang sosiolog dari Inggris. Meski terdengar rumit, gagasan Giddens justru sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk kebiasaan ngopi di coffee shop ini. Dengan meminjam kacamata Giddens ini, ngopi akan dipandang sebagai praktik sosial, bukan sekadar minum kopi.
Dua dekade lalu, minum kopi sering diasosiasikan dengan warung kopi sederhana atau aktivitas rutin orang dewasa. Kini, ngopi bertransformasi menjadi aktivitas urban yang penuh makna simbolik. Kafe modern menawarkan ruang estetik, Wi-Fi cepat, colokan listrik di setiap sudut, dan menu yang beragam. Ruang-ruang ini menjadi tempat nongkrong, bekerja, belajar, hingga membangun jejaring sosial.
Bagi Gen Z, ngopi adalah pengalaman. Memilih kafe tertentu, memesan menu tertentu, duduk di sudut yang pas, lalu mengunggahnya ke Instagram atau TikTok, adalah bagian dari satu rangkaian tindakan sosial. Di titik ini, kopi tidak hanya diminum, tetapi “dipamerkan” sebagai penanda selera, gaya hidup, bahkan kelas sosial.
Struktur dan Agensi ala Giddens
Anthony Giddens berangkat dari kegelisahan klasik dalam sosiologi: apakah hidup manusia lebih ditentukan oleh struktur sosial, atau oleh pilihan individu? Jawaban Giddens tidak memilih salah satu. Ia memperkenalkan konsep duality of structure. Sederhananya, konsep ini mau bilang bahwa struktur dan tindakan individu (agensi) saling membentuk dan tidak bisa dipisahkan.
Struktur, dalam pengertian Giddens, bukan hanya aturan tertulis. Ia mencakup norma, kebiasaan, sumber daya, dan pola yang membingkai tindakan kita. Sementara agensi adalah kemampuan individu untuk bertindak secara sadar dan reflektif. Dalam konteks ngopi, kafe dan media sosial dapat dilihat sebagai struktur, sementara Gen Z adalah agen yang aktif menggunakan struktur tersebut.
Kafe menyediakan ruang, desain interior, dan suasana tertentu. Media sosial menyediakan aturan tak tertulis tentang apa yang dianggap menarik, estetik, dan layak dibagikan. Namun, struktur ini tidak bekerja secara sepihak. Gen Z jelas punya andil. Dengan cara mereka datang ke kafe, berfoto, mengunggah, dan mengulanginya terus menerus, struktur tersebut terus diproduksi dan diperkuat.
Kafe sebagai Panggung Sosial
Kafe modern bisa dibaca sebagai panggung tempat Gen Z menampilkan dirinya. Desain industrial, pencahayaan hangat, mural artistik, dan meja kayu panjang bukan sekadar dekorasi. Semua itu membentuk ekspektasi tentang bagaimana pengunjung seharusnya bersikap: duduk santai tapi produktif, sibuk tapi tetap stylish, bekerja tapi tetap sosial.
Di sinilah struktur bekerja secara halus. Tanpa ada papan aturan, pengunjung selayaknya tahu bagaimana harus berperilaku. Mereka tahu sudut mana yang cocok untuk foto, jam berapa kafe terlihat paling estetik, dan bagaimana menata laptop serta kopi agar tampak menarik di kamera. Pengetahuan ini jarang diucapkan, tetapi dipraktikkan berulang kali.
Namun, Gen Z bukan sekadar korban struktur. Mereka juga agen yang reflektif. Mereka memilih kafe tertentu, menyesuaikan gaya berpakaian, bahkan menentukan waktu kunjungan demi citra yang ingin ditampilkan. Pilihan-pilihan ini menunjukkan bahwa ngopi adalah tindakan yang dipikirkan, bukan sekadar kebiasaan spontan.
Media Sosial dan Validasi Sosial
Peran media sosial tidak bisa dilepaskan dari budaya ngopi Gen Z. Instagram dan TikTok menjadi ruang tempat pengalaman ngopi diberi makna sosial. Unggahan di coffee shop bukan hanya berbagi momen, tetapi juga mencari pengakuan: like, komentar, dan views.
Di sinilah konsep refleksivitas Giddens menjadi penting. Gen Z terus-menerus memonitor tindakannya: apakah unggahan ini menarik, apakah feed terlihat konsisten, apakah citra diri yang ditampilkan sesuai dengan tren. Refleksivitas ini bekerja di dua level. Pertama, kesadaran praktis (pengetahuan implisit Gen Z tentang “vibe” yang tepat). Kedua, kesadaran diskursif (kemampuan Gen Z menjelaskan secara sadar mengapa memilih kafe tertentu atau mengunggah konten tertentu).
Melalui proses ini, ngopi menjadi sarana negosiasi identitas. Seseorang tidak hanya mengatakan aku suka kopi, tapi juga aku bagian dari gaya hidup urban, produktif, dan up-to-date.
Dari Kebiasaan ke Institusi Sosial
Karena dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang, praktik ngopi ala Gen Z lama-kelamaan berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Inilah yang oleh Giddens disebut sebagai rekursivitas: tindakan sosial yang terus diulang hingga membentuk pola yang stabil.
Ketika unggahan kafe estetik mendapat respons positif, pemilik kafe lain menirunya. Desain serupa bermunculan, menu dibuat instagramable, dan fasilitas digital semakin dilengkapi. Di sisi lain, Gen Z semakin menganggap ngopi di kafe sebagai bagian normal dari kehidupan sehari-hari. Proses timbal balik ini menunjukkan bagaimana agensi individu berkontribusi pada pembentukan struktur baru.
Pada tahap ini, budaya ngopi dapat disebut sebagai institusi sosial baru. Ia memiliki norma, simbol, dan ekspektasi sendiri. Ngopi bukan lagi aktivitas tambahan, melainkan bagian dari ritme hidup urban.
Hermeneutika Ganda (Dua Cara Membaca Ngopi)
Giddens juga memperkenalkan konsep hermeneutika ganda. Artinya, masyarakat menafsirkan tindakannya sendiri, sementara ilmuwan sosial menafsirkan kembali tafsiran tersebut.
Bagi Gen Z, ngopi mungkin dipahami sebagai cara bersantai, bersosialisasi, atau menghilangkan stres. Namun bagi peneliti sosial, praktik yang sama dibaca sebagai proses pembentukan identitas di era digital, yang melibatkan relasi kompleks antara ruang, teknologi, dan makna sosial. Dua lapis penafsiran ini sama-sama sah dan justru saling melengkapi.
Penutup: Ngopi sebagai Cermin Teori Sosial
Melalui kacamata Giddens, budaya ngopi ala Gen Z tidak lagi terlihat sepele. Ia adalah contoh nyata bagaimana struktur dan agensi saling berkelindan dalam kehidupan sehari-hari. Kafe dan media sosial menyediakan struktur, sementara Gen Z sebagai agen aktif menggunakannya untuk membangun identitas diri. Dalam proses itu, struktur lama diperkuat dan struktur baru diciptakan.
Ngopi, pada akhirnya, adalah cermin dari masyarakat kontemporer: reflektif, visual, dan sangat bergantung pada interaksi sosial digital. Di balik secangkir kopi dan unggahan Instagram, tersimpan dinamika sosial yang kompleks, dan di situlah teori Giddens menemukan relevansinya.
