FISIP UIN Jakarta menjajaki program pertukaran mahasiswa di Universitas Malaya
Berita FISIP. Kuala Lumpur, Kamis 16 Juli 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan kunjungan ke Universitas Malaya (UM) Malaysia untuk memperluas jaringan institusional antarbangsa. Kunjungan ini disambut langsung oleh perwakilan UM, Ahmad Hilmie Yakub, yang memaparkan berbagai peluang sinergi, sejarah besar kampus, hingga fasilitas mutakhir yang dimiliki universitas tertua di Malaysia tersebut.
Dalam sesi pemaparan, Ahmad Hilmie menjelaskan bahwa sejarah Universitas Malaya berakar dari Singapura, tempat pertama kali institusi ini didirikan pada tahun 1949 melalui penggabungan King Edward VII College of Medicine dan Raffles College. Ketika Singapura dan Malaya masih bersatu, universitas ini beroperasi di kedua wilayah tersebut. Namun, seiring dengan dinamika politik dan pemisahan wilayah, pada tahun 1962, Universitas Malaya secara resmi memindahkan seluruh operasional utamanya ke Kuala Lumpur, Malaysia, sementara kampus di Singapura berkembang menjadi National University of Singapore (NUS) saat ini.
"Sebagai universitas nomor satu di negara masing-masing, UM dan NUS tidak bersaing secara negatif, melainkan saling bersinergi dalam memajukan pendidikan di kawasan Asia Tenggara," ujar Ahmad Hilmie. Rekam jejak emas UM sebagai pencetak pemimpin bangsa terbukti dari deretan alumni terkemuka (notable alumni), salah satunya adalah Perdana Menteri Malaysia saat ini, Anwar Ibrahim.
Salah satu program unggulan yang menjadi daya tarik utama di UM adalah program pertukaran mahasiswa (student exchange). Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa asing untuk belajar selama minimal 6 bulan hingga maksimal 1 tahun (2 semester). Negara asal peserta didominasi oleh kawasan Asia, seperti Indonesia, Tiongkok, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan.
"Mahasiswa dari Indonesia merupakan jumlah terbesar yang mengikuti program pertukaran ini. Faktor kedekatan budaya dan cita rasa makanan yang hampir sama menjadi alasan utama mengapa UM selalu menjadi destinasi favorit mereka," tambah Ahmad Hilmie.
Terkait pertanyaan delegasi FISIP mengenai peluang pembiayaan studi, Ahmad Hilmie menjelaskan skema beasiswa yang berlaku. Universitas Malaya tidak memberikan beasiswa secara langsung dari dana internal universitas, melainkan memfasilitasi kerja sama erat dengan berbagai lembaga penyedia beasiswa eksternal bereputasi untuk membantu mahasiswa internasional.
Setelah sesi diskusi, delegasi mahasiswa FISIP diajak berkeliling melihat langsung fasilitas di area kampus UM. Universitas ini menyediakan sarana pendukung akademik dan nonakademik yang sangat lengkap untuk menunjang aktivitas mahasiswa, di antaranya:
* Pusat Olahraga: Memiliki stadion lapangan sepak bola, kolam renang ukuran olimpiade, dan lapangan panahan khusus.
* Fasilitas Budaya dan Alam: Memiliki Museum Seni (Museum of Art) yang menyimpan berbagai koleksi historis serta kebun botani (botanical garden) yang kaya akan flora dan fauna sebagai sarana edukasi hijau di tengah kampus.
Kunjungan ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi rill bagi mahasiswa FISIP ke depan, baik melalui program pertukaran pelajar maupun penelitian bersama di masa yang akan datang.(Marniza)
