Diskusi Publik FISIP UIN Jakarta Bahas Politik Pendidikan Islam dan Integrasi Keilmuan
Berita FISIP, Senin 11 Mei 2026 - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar diskusi publik bertajuk “Negara dan Politik Pendidikan Islam” di Aula Madya FISIP UIN Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ronald Lukens-Bull serta Prof. Nina Nurmila, yang membahas transformasi pendidikan Islam di Indonesia dalam perspektif sosial, politik, dan keilmuan. Kegiatan dilaksanakan di ruang aula madya lt.I FISIP Senin, 11 Mei 2026.
Acara dibuka dengan sambutan Dekan FISIP UIN Jakarta, Prof. Dzuriyatun Toyibah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada kedua narasumber. Ia juga berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan mahasiswa melalui pertukaran gagasan bersama akademisi internasional dan para pakar eksternal yang memiliki pengalaman luas dalam kajian pendidikan Islam dan transformasi perguruan tinggi.
Dalam pemaparannya, Ronald Lukens-Bull menyoroti dinamika transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) pada periode 2000–2008. Ia menjelaskan bahwa perubahan tersebut sempat memunculkan berbagai kekhawatiran, mulai dari potensi berkurangnya perhatian terhadap fakultas keagamaan, melemahnya identitas keislaman, hingga kekhawatiran terhadap pengaruh ideologi radikal di kalangan mahasiswa.
Ronald juga menjelaskan posisi Indonesia yang berada di antara dua model pendidikan Islam, yakni model Barat yang menekankan pendekatan ilmiah modern dan model Timur Tengah yang menitikberatkan pada otoritas ulama serta tradisi klasik Islam. Menurutnya, Indonesia berhasil mengembangkan pendekatan tersendiri dengan memadukan modernitas akademik dan tradisi Islam lokal.
Selain itu, ia membahas integrasi ilmu agama dan sains di lingkungan UIN, termasuk bagaimana dosen menghubungkan nilai-nilai keislaman dengan ilmu modern dalam proses pembelajaran. Penelitian tersebut dilakukan melalui analisis kurikulum, observasi kelas, dan studi di fakultas sains dan teknologi.
Sementara itu, Prof. Nina Nurmila memaparkan materi mengenai hubungan antara Islam, ilmu pengetahuan, dan sekularisme. Ia menjelaskan bahwa pada masa awal Islam, ilmu agama dan ilmu umum tidak dipisahkan karena seluruh ilmu dipandang berasal dari Allah. Ilmu kemudian dibagi menjadi dua kategori, yakni fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
Ia juga menjelaskan bagaimana sekularisme di Barat muncul sebagai respons terhadap pembatasan ilmu pengetahuan oleh gereja pada masa Dark Age. Dalam perkembangan sejarah, Barat kemudian mengalami kemajuan pesat dalam ilmu pengetahuan, sementara dunia Islam mengalami kemunduran akibat melemahnya tradisi intelektual dan berbagai konflik politik.
Lebih lanjut, Prof. Nina menekankan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam agar perkembangan sains tetap memberikan manfaat bagi kehidupan manusia dan tidak terlepas dari pedoman wahyu.
Diskusi publik ini menjadi ruang refleksi akademik mengenai tantangan dan masa depan pendidikan Islam di Indonesia. Melalui forum tersebut, mahasiswa dan civitas akademika diajak untuk memahami pentingnya membangun tradisi keilmuan yang mampu memadukan nilai keislaman, modernitas, serta kebutuhan masyarakat global. (Derifqi Dwika, Mufida Safa, Marniza)
