Bincang Alumni #18  Lulusan Uin Tunjukkan Tajinya: Melampaui Stigma: Membangun Etos Dan Kompetensi Lulusan Uin Di Tengah Persaingan Kerja
Bincang Alumni #18 Lulusan Uin Tunjukkan Tajinya: Melampaui Stigma: Membangun Etos Dan Kompetensi Lulusan Uin Di Tengah Persaingan Kerja

Berita FISIP. Selasa, 26 Mei 2026 - Di tengah derasnya persaingan dunia kerja dan masih kentalnya stigma terhadap lulusan perguruan tinggi Islam, Program Studi Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Bincang Alumni #18 pada Senin, 26 Mei 2026. Kegiatan pembekalan mahasiswa ini menghadirkan Muhammad Sarifin, S.Sos, CETP, CPHM, CTMP, CCLS, CTRS, CCHS — yang akrab disapa Kak Ipin — sebagai pemateri utama. Ia adalah alumni Ilmu Politik UIN yang kini berkarier sebagai Soft Skills Trainer, Career Mentor, dan Training & Development Practitioner, sekaligus pendiri komunitas @mudaberbeda.id dan pemilik usaha @hoonstore_id.

Materi yang ia bawakan bertajuk "Melampaui Stigma: Membangun Etos dan Kompetensi Lulusan UIN di Tengah Persaingan Kerja" — sebuah judul yang bukan sekadar provokatif, melainkan cerminan nyata dari perjalanan hidup sang pemateri itu sendiri.

Dari Forum Anak ke Panggung Internasional

Kak Ipin membuka sesi dengan menelusuri perjalanan pribadinya yang dimulai jauh sebelum ia menginjakkan kaki di kampus. Sejak 2010, ia telah aktif di Forum Anak dari tingkat lokal hingga nasional, menjalani berbagai peran mulai dari peer educator hingga fasilitator anak. Puncaknya tiba pada 2013, ketika ia terpilih sebagai delegasi Indonesia dalam 66th Pre-sessional Working Group Komite Hak Anak PBB di Jenewa, Swiss — sebuah panggung internasional yang ia raih bukan karena lulus cepat atau IPK sempurna, melainkan karena rekam jejak dan keberanian mengeksplorasi diri sejak dini.

Perjalanan itu ia gambarkan dalam tiga fase yang ia sebut sebagai DNA transformasinya. Fase pertama (2010–2015) adalah masa fondasi, ketika ia membentuk diri sebagai individu i-shaped — seseorang yang mendalami satu bidang secara intens. Fase kedua (2015–2022) adalah masa transformasi besar: ia menjadi generalis murni yang aktif di lebih dari 45 institusi dan lebih dari 100 program atau kegiatan, merangkap peran sebagai fasilitator anak, manajer relawan, public speaker, radio host, event organizer semuanya dijalani bersamaan dengan masa kuliah. Fase ketiga (2022–hingga kini) adalah fase dedikasi dan inovasi, di mana ia memfokuskan diri membangun kiprah profesional sebagai t-shaped professional: seseorang yang memiliki kedalaman di satu bidang, namun tetap mampu berkolaborasi dan beradaptasi secara luas.

"Kemas segera versimu," ujarnya — sebuah seruan sekaligus tantangan bagi para mahasiswa yang hadir untuk tidak menunggu momentum sempurna, melainkan mulai membangun identitas dan portofolio diri dari sekarang.

Tiga Pertanyaan yang Mencerminkan Kegelisahan Nyata

Sesi tanya jawab berlangsung hidup dan penuh antusiasme. Tiga peserta tampil mengajukan pertanyaan yang bukan sekadar rasa ingin tahu akademis, melainkan mencerminkan kegelisahan nyata yang dirasakan banyak mahasiswa ketika berhadapan dengan bayang-bayang dunia kerja.

Pertanyaan pertama menyentuh asumsi yang lazim beredar — bahkan kerap menjadi tekanan tak terucap di lingkungan kampus: apakah lulus cepat menjamin kesuksesan seseorang? Pertanyaan ini relevan di tengah budaya yang masih sering mengukur kualitas mahasiswa dari kecepatan studinya.

Pertanyaan kedua mengangkat stigma yang selama ini diam-diam menghantui mahasiswa jurusan politik: banyak perusahaan disebut enggan merekrut lulusan ilmu politik karena dianggap terlalu kritis dan sulit diatur. Bagaimana seorang lulusan ilmu politik harus menghadapi tembok yang tak kasat mata ini?

Pertanyaan ketiga membenturkan dua kutub pilihan yang kerap membingungkan mahasiswa dalam menentukan arah pengembangan diri: apakah sebaiknya menjadi idealis yang teguh pada prinsip, atau generalis yang lentur dan serba bisa?

Kak Ipin menjawab ketiganya dengan satu benang merah yang sama: perbanyak eksplorasi diri, dan ubah cara pandang terhadap kekurangan. Ia menegaskan bahwa kekurangan bukan sesuatu yang perlu ditakuti — justru sebaliknya, kekurangan adalah titik awal pertumbuhan yang sesungguhnya. Kecepatan lulus tidak otomatis berbanding lurus dengan kesiapan menghadapi dunia kerja. Stigma terhadap jurusan tidak akan luruh hanya dengan defensif, melainkan dengan membuktikan kompetensi secara nyata. Dan pilihan antara idealis atau generalis bukanlah dikotomi yang perlu dipertentangkan — melainkan dua energi yang bisa saling melengkapi dalam perjalanan membentuk diri.

Semuanya, kata Kak Ipin, kembali pada satu pertanyaan mendasar: seberapa jauh seseorang berani mengenal dirinya sendiri, berani mencoba hal-hal baru, dan berani bangkit setelah mengalami kegagalan.

Kompetensi sebagai Jawaban Terbaik atas Stigma

Menutup sesinya, Kak Ipin menyampaikan pesan yang tegas namun menggerakkan: stigma terhadap lulusan UIN hanya akan bertahan jika dibiarkan tanpa perlawanan nyata. Bukan perlawanan dengan kata-kata, melainkan dengan karya, kompetensi, dan etos kerja yang terbukti. Ia mengingatkan bahwa dirinya sendiri adalah bukti hidup bahwa lulusan Ilmu Politik UIN bisa melangkah jauh — bukan karena keistimewaan latar belakang, melainkan karena keberanian untuk terus bertumbuh.

Selama mahasiswa UIN terus mengeksplorasi diri, membangun portofolio pengalaman yang bermakna, dan memandang kekurangan bukan sebagai tembok melainkan batu pijakan — maka taji lulusan UIN akan selalu tajam, di mana pun mereka berpijak.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terus mendorong terciptanya budaya akademik yang kolaboratif melalui keterlibatan alumni sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran bagi mahasiswa. Diharapkan, wawasan yang diperoleh tidak hanya membantu mahasiswa menyelesaikan skripsi secara tepat waktu, tetapi juga membentuk tradisi penelitian yang kritis, sistematis, dan berkontribusi terhadap pengembangan ilmu politik serta penyelesaian berbagai persoalan di masyarakat..

Penulis; Ferdiyan Alfiyandi Santoso/Suryani