Bincang Alumni #17 Kiat Menulis Skripsi Dan Lulus Tepat Waktu Dari Alumni Ilmu Politik Uin Jakarta
Berita FISIP. Rabu,17 Juni 2026 - Skripsi kerap menjadi momok terbesar bagi mahasiswa tingkat akhir, bukan karena sulitnya ilmu yang dipelajari, melainkan karena ketidaktahuan harus memulai dari mana. Persoalan inilah yang coba dijawab Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta lewat Bincang Alumni #17, sebuah webinar yang mengupas tuntas strategi menulis skripsi secara sistematis dan berkualitas.
Kegiatan yang merupakan program kerja KKN In Campus Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (19/6), pukul 09.00 hingga 10.30 WIB. Mengusung tema “Strategi Menulis Skripsi Ilmu Politik yang Sistematis dan Berkualitas”, webinar ini menghadirkan Lilis Ratnasari, S.Sos., alumni Program Studi Ilmu Politik UIN Jakarta dan alumni skripsi terbaik cluster social sciene UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2024, sebagai narasumber utama dengan Aziz Basyarahil (Mahasiswa Ilmu Politik 2023) sebagai pemandu jalannya diskusi sebagai moderator.
Acara dibuka dengan sesi perkenalan singkat sebelum narasumber mulai membagikan kisahnya sebagai mahasiswa semester akhir Ilmu Politik UIN Jakarta. Lilis tidak segan bercerita tentang jatuh-bangunnya ia menyusun skripsi, mulai dari kebingungan menentukan topik, melakukan riset berkali-kali untuk menemukan topik yang cocok, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan studinya. Cerita-cerita inilah yang membuat suasana webinar terasa hangat dan membumi, jauh dari kesan teoretis yang kaku.
Mulai dari yang Disukai, Bukan dari yang Rumit
Salah satu pesan pembuka yang ditekankan Lilis adalah soal bagaimana menentukan topik penelitian. Menurutnya, mahasiswa tidak perlu memaksakan diri mencari topik yang terdengar berat atau rumit. Justru, ia menyarankan agar topik skripsi digali dari mata kuliah yang paling disukai atau isu yang benar-benar diminati.
Ia juga melontarkan satu kalimat yang menjadi pengingat penting bagi peserta webinar yakni skripsi yang baik bukanlah skripsi yang mengubah dunia, melainkan skripsi yang dapat diselesaikan. Pernyataan ini sontak mendapat respons positif dari peserta yang merasa relate dengan tekanan untuk membuat penelitian yang “luar biasa”, padahal yang lebih penting adalah konsistensi menuntaskannya.
Lima Elemen Wajib dalam Kerangka Skripsi
Memasuki sesi inti, Lilis memaparkan struktur dasar yang perlu dipahami mahasiswa dalam menyusun skripsi sekaligus mempersiapkan presentasi hasil penelitiannya. Menurutnya, terdapat lima komponen utama yang menjadi fondasi sebuah penelitian ilmiah, yaitu pernyataan masalah (problem statement), pertanyaan penelitian (research question), kerangka teori, metodologi penelitian, serta pembahasan hasil penelitian yang kemudian ditutup dengan kesimpulan dan saran. Ia menegaskan bahwa pemahaman terhadap struktur tersebut sangat penting karena akan membantu mahasiswa menyusun alur berpikir yang sistematis, logis, dan mudah dipahami oleh pembaca maupun penguji.
Lilis menjelaskan bahwa setiap komponen dalam skripsi memiliki keterkaitan yang erat dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Proses penelitian harus diawali dengan identifikasi masalah yang jelas dan didukung oleh fenomena yang relevan sehingga mampu melahirkan pertanyaan penelitian yang terarah. Pertanyaan penelitian tersebut selanjutnya menjadi dasar dalam menentukan teori yang paling sesuai untuk menganalisis persoalan, sekaligus menjadi acuan dalam memilih metode penelitian yang mampu menghasilkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, pembahasan juga tidak sekadar menyajikan temuan penelitian, tetapi harus mampu menghubungkan hasil penelitian dengan teori yang digunakan serta memberikan analisis kritis terhadap fenomena yang diteliti. Dengan demikian, kesimpulan yang dihasilkan benar-benar menjawab rumusan masalah, sementara saran yang diberikan dapat menjadi rekomendasi bagi penelitian lanjutan maupun bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Selain menjelaskan aspek teknis penyusunan skripsi, Lilis juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak hanya pada penyusunan format penulisan. Menurutnya, kualitas sebuah skripsi lebih ditentukan oleh kekuatan argumentasi, ketajaman analisis, dan kemampuan penulis dalam menghubungkan teori dengan realitas empiris. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun pola pikir yang kritis sejak awal proses penelitian, aktif membaca literatur akademik, serta terus mendiskusikan perkembangan penelitiannya dengan dosen pembimbing agar hasil penelitian memiliki kontribusi ilmiah yang lebih bermakna.
Temuan yang Tidak Sesuai Teori Juga Bagian dari Riset
Salah satu poin yang menarik perhatian peserta adalah penegasan Lilis soal pembuktian hasil penelitian. Ia mengingatkan bahwa setiap temuan dalam skripsi harus dikonfrontasikan dengan teori yang telah digunakan sejak awal. Namun yang menarik, ia menegaskan bahwa ketidaksesuaian antara temuan di lapangan dengan teori yang ada bukanlah kegagalan, melainkan tetap merupakan temuan yang sah dan layak dibahas.
Pernyataan ini seolah meredakan kekhawatiran banyak mahasiswa yang kerap merasa penelitiannya “gagal” ketika data di lapangan tidak sejalan dengan teori yang mereka gunakan. Padahal, menurut Lilis, justru di situlah letak kontribusi akademis seorang peneliti.
Soal Lokasi Penelitian dan Urgensi yang Jelas
Dalam sesi mengenai penelitian lapangan, Lilis menjelaskan bahwa menentukan lokasi dan objek penelitian merupakan salah satu tahapan penting yang akan memengaruhi kualitas keseluruhan penelitian. Menurutnya, mahasiswa perlu memilih lokasi yang sesuai dengan fokus kajian serta memungkinkan proses pengumpulan data dilakukan secara efektif. Ia mengingatkan agar penelitian tidak dibuat terlalu luas sehingga sulit dikelola, namun juga tidak terlalu sempit sehingga minim kontribusi akademik. Lebih dari itu, Lilis menegaskan bahwa sebuah penelitian harus memiliki urgensi yang jelas, mampu menjawab persoalan yang aktual, serta menawarkan nilai tambah bagi pengembangan kajian ilmu politik. Oleh karena itu, sebelum menentukan topik penelitian, mahasiswa perlu memahami fenomena yang akan dikaji, menelaah penelitian terdahulu, serta mengidentifikasi kesenjangan penelitian (research gap) agar hasil penelitian memiliki kebaruan dan signifikansi ilmiah.
Parafrase, Bukan Plagiasi
Menutup pemaparannya, Lilis mengingatkan peserta mengenai pentingnya integritas akademik, khususnya dalam penyusunan kajian teori. Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menyalin atau menjiplak langsung dari buku maupun sumber rujukan lainnya. Setiap kutipan dan rujukan teori, menurutnya, wajib diubah ke dalam gaya bahasa penulis sendiri melalui proses parafrase yang baik dan benar.
Setelah sesi pemaparan materi yang berlangsung selama kurang lebih 50 menit, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu langsung oleh moderator Aziz Basyarahil. Sejumlah peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan, mulai dari kendala teknis dalam menentukan metode penelitian hingga cara berkomunikasi yang efektif dengan dosen pembimbing. Lilis menjawab setiap pertanyaan dengan pendekatan personal, kerap menyelipkan pengalaman pribadinya sebagai bahan pembanding.
Melalui Bincang Alumni #17, diharapkan mahasiswa Ilmu Politik UIN Jakarta tidak lagi memandang skripsi sebagai beban yang menakutkan, melainkan sebagai proses akademik yang bisa dijalani secara terarah dan sistematis.
Penulis: Aziz Basyarahil/Suryani
