FISIP DARING – Selasa (23/10) Program Studi Ilmu Politik gelar diskusi membahas “Problema Komunikasi Politik Partai di Indonesia”. Nurul Arifin, politisi partai Golkar yang memulai karir politiknya pada saat menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014 dihadirkan sebagai narasumber. Dihadiri oleh sebagian besar mahasiswa ilmu politik tahun ketiga, diskusi tersebut menerima antusiasme yang cukup tinggi.

Agus Nugraha, Wadek III turut hadir dalam diskusi tersebut. Selain itu, Iding Rosyidin, Kaprodi Ilmu Politik pun hadir dan berlaku sebagai moderator diskusi.

Mahasiswa tidak hanya diberikan pemaparan berdasarkan teori semata, Nurul Arifin turut memaparkan fakta yang terjadi di lingkungan politik Indonesia. Pada permulaan diskusi ia bertanya mengenai pandangan peserta diskusi akan partai politik di Indonesia. Sebagian besar peserta menyampaikan mengenai reputasi partai politik di Indonesia yang korup serta skeptisme masyarakat terhadap partai politik. Nurul Arifin kemudian menyampaikan bagaimana sesungguhnya permasalahan tersebut adalah salah satu masalah terbesar yang dihdapi oleh semua partai politik.

Narasumber menjabarkan bagaimana pola komunikasi politik yang dilakukan oleh pemerintah atau partai yang sedang berkuasa, dibandingkan dengan pola komunikasi politik oleh pihak oposisi. Firehouse of falsehood, istilah yang menjelaskan pola komunikasi politik oposisi.

“hal yang terpenting dalam komunikasi politik oposisi adalah dengan menyalahkan segala yang dilakukan oleh pemerinta untuk menarik hati rakyat” papar Nurul Arifin. Apa yang disampaikan oleh oposisi memiliki motif untuk menyebarkan ketakutan masif dalam masyarakat. Lanjutnya.

Selain berkenaan dengan komuikasi politik yang dilakukan pemerintah dan oposisi, Nurul Arifin juga menyampaikan bagaimana komunikasi politik yang baik bagi calon legislatif. Tidak lupa di sela-sela materi yang disampaikan ia mengingatkan peserta diskusi untuk tidak menjadi golput saat pemilu.

Saat seseorang mencalonkan diri sebagai caleg hal pertama yang harus dilakukan yakni image building. Image yang dibangun bisa diambil dari latar belakang pribadi, keluarga, bahkan hingga prestasi dan kemampuan yang menjadi keunggulungannya. Setelah image, seorang caleg harus menentukan strategi komunikasi politik seperti apa yang akan dilakukan agar dapat menarik hati pemilihnya. Nurul Arifin menyampaikan bagaimana banyak dari caleg kurang memperhatikan hal-hal tersebut karena misalkan, dicalonkan mendadak sekedar untuk memenuhi syarat kuota 30% perempuan. Hal ini menjadikan apa yang ditawarkan caleg tidak jelas.

Sebagai politisi perempuan, Nurul Arifin menyampaikan pandangannya mengenai bagaimana fakta yang terjadi kepada perempuan-perempuan yang terlibat dalam partai politik.

“perempuan hanya dicari untuk memenuhi syarat kuota, faktanya peremupan yang berada di puncak struktural politik sangatlah sedikit.” Paparnya.

Diskusi ditutup setelah sesi tanya jawab dan penyerahan kenang-kenagan dari FISIP UIN kepada Nurul Arifin.

(Alma/JPMK)