Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Iding Rosyidin, M.Si tampil sebagai salah seorang pembicara dalam Seminar Nasional tentang Partai Politik Islam dalam Pemilu 2019. Seminar diselenggarakan di Aula FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Rabu 14 November 2014. Seminar ini bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa atas kondisi partai poitik Islam menjelang Pemilu yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019. Pembicara lainnya adalah Dr. Endang Sulastri, M.Si., Dekan FISIP UMJ, dan Warijo, Ph.D, Kaprodi Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Acara dimoderatori oleh Lusi Andriyani, M.Si, aprodi Ilmu Politik UMJ. Beberapa perwakilan organisasi juga turut hadir seperti perwakilan Himapol (Himpunan Mahasiswa Politik) wilayah III, Himapol IISIP Jakarta, Himapol UIN Syarif Hidayatullah dan organisasi lainnya.

Sesuai dengan tema seminar, para pembicara mempresentasikan pemikiran mereka mengenai nasib partai politik Islam. Pembicara pertama, Endang mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar ke-3 didunia dan Reformasi 1998 baru berusia 20 tahun, sehingga menurutnya, wajar saja bila dunia perpolitikan Indonesia masih belum semulus yang diharapkan. Ia banyak memaparkan tentang berbagai problem yang dihadapi partai politik terkait dengan pemilu, antara lain mengenai pragmatisme politik dan sebagainya.

Sebagai pembicara kedua, Warjio memaparkan pendapatnya tentang peluang Partai politik Islam pada Pemilu yang akan datang. Menurut, nasib partai Islam yang sudah semakin memudar dan kehilangan suara tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negri jiran Malaysia. Menurutnya, melemahnya partai Islam disebabkan oleh beberapa faktor, baik dari dalam maupun luar. Contoh faktor Internal adalah adanya perpecahan di dalam Partai seperti yang menimpa PKS. Dan faktor eksternal terlihat dari kegamangan partai Islam antara tetap berpegang pada identitas keislamannya atau lebih terbuka

Sementara pembicara ketiga, Iding Rosyidin, lebih banyak menyoroti jauh partai politik termasuk partai Islam dari modernisasi. Sistem kaderisasi yang tidak berjalan dengan baik, dan pragmatisme demi meraih suara sebanyak mungkin membuat partai semakin jauh dengan modern. Salah satunya dengan merekrut kalangan artis yang lebih banyak dilihat dari aspek popularitas dan kemampuan finansial saja, dengan mengabaikan aspek kapasitas dan kapabilitas politiknya. Kecenderungan semacam ini ternyata juga menimpa partai-partai Islam.

Oleh karena itu, Iding menyarakan bagi partai-partai politik Islam, kalaupun harus mengambil artis sebagai kadernya, maka harus dilakukan secara selektif mungkin. Persoalan identitas jelas sangat penting karena bagaimanapun akan bersinggungan dengan konstituen Muslim. Di samping itu, aspek kemampuan politik tetap harus dipertimbangkan, karena sebenarnya ada juga artis yang memiliki kemampuan cukup baik. Irza/alfi