FISIP Daring. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 25 – 26 September 2018 mengadakan International Conference On Social And Political Sciences (ICSPS) yang bertajuk “Towards National Integration And Global Peace”. Acara ini berlangsung di Auditorium FISIP UIN yang dimulai pukul 09.00 – 12.00  WIB.

Konferensi ini berbentuk diskusi panel. Pada hari pertama konferensi, acara dimoderatori oleh Dr. Burhanuddin Muhtadi, MA (FISIP UIN Jakarta / Direktur Indikator Politik Indonesia). Panitia mengundang narasumber yakni Assoc. Prof. Dr. Marcus Mietzner (The Australian National University), Prof. Dr. Tracey McIntosh (The University of Auckland, New Zealand), Prof. Dr. Mohamed Bin Ali (Nanyang Technological University, Singapore).

Rangkaian acara dimulai dari penampilan tarian Saman yang dilakukan oleh mahasiswi-mahasiswi FISIP UIN Jakarta dan penampilan akustik dari tiga orang mahasiswa yang membuat pembukaan acara semakin meriah. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Prof. Dr. Zulkifli, MA selaku Dekan FISIP UIN Jakarta.

Assoc. Prof. Dr. Marcus Mietzner menjadi pembicara pertama dengan memberi pemaparan tentang Ultranasionalis, Islamis, dan Teknokrat: Populisme Saingan dan Krisis Demokratis di Indonesia. “Indonesia dihadapkan pada persaingan populis, ada 3 populisme berbeda yang berkompetisi untuk merebut kekuasaan”, ujar Marcus. Kemudian Ia juga menyebutkan 3 tokoh Indonesia yang saat ini memberi pengaruh besar yakni Joko Widodo, Prabowo Subianto, dan Habib Rizieq Shihab.

Selanjutnya Prof. Dr. Tracey McIntosh memberi pemaparan tentang Ketimpangan dan Keadilan Sosial: Ketidaksetaraan berteori. “Ada potensi jutaan orang sekitar dua jutaan hak-hak mereka, dan kemampuan untuk berpartisipasi serta memberikan kontribusi kepada masyarakat telah  berkurang dan ini membuktikan bahwa kesetaraan belum diimplementasikan dengan benar,” ujar Tracey. Ia juga memaparkan tentang kekerasan struktural, mengatasi keadilan sosial dan mengatasi ketimpangan.

Prof. Dr. Mohamed Bin Ali menjadi pembicara terakhir dihari pertama konferensi. Ia memaparkan tentang Konflik Agama, Ekstrimisme dan Kekerasan: Ancaman terhadap Perdamaian dan Harmoni”, ujar Mohamed. Ia juga memaparkan tentang Islamisme adalah keyakinan bahwa Islam harus memandu kehidupan sosial dan politik serta pribadi.

Pada hari kedua konferensi, acara dimoderatori oleh Dr. Jamal Abdullah (Oxford University). Panitia mengundang narasumber yakni Prof. Dr. Din Syamsuddin (FISIP UIN Jakarta), Prof. Dr. Kamarulnizam Abdullah (University Utara Malaysia).

Prof. Dr. Din Syamsuddin menjadi pembicara pertama pada hari kedua dengan memaparkan materi tentang substansial perdamaian dan perang, resolusi konflik, dan solusi yang mungkin diperlukan untuk menyelesaikan konflik di masa depan. Didalam pernyataannya ia mengatakan  solusi terhadap konflik adalah harus lebih memperhatikan konflik krisis lingkungan, Kekuatan dialog dan kerja sama adalah kuncinya. Setelah selesai memberikan pemaparan dibuka sesi Pertanyaan dan Jawaban. Mayoritas pertanyaannya adalah tentang reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kemudian Prof. Dr. Kamarulnizam Abdulah menjadi penutup pembicara dengan memaparkan materi tentang Keadilan Distributif dan Perdamaian Global. Didalam pemaparannya keadilan sosial berfokus pada kesetaraan dan keadilan yang konsep dan istilahnya sendiri telah memberikan berbagai makna yang beragam tentang persamaan dan kesetaraan.

Di sesi terakhir, moderator membuka sesi tanya jawab. Sesi ini berjalan dinamis. Beberapa  audiens mengajukan pertanyaan tentang sengketa minyak di Timur Tengah dan pengaruhnya ke Indonesia, cara alternatif untuk menyelesaikan krisis di Timur Tengah, dan seterusnya.Kemudian acara ditutup dengan pemberian cinderamata kepada narasumber oleh Dekan FISIP dan sesi foto bersama dengan narasumber.