Stadium General dan Bedah Buku Identitas, Agama dan Migrasi

26 September 2017

Stadium General dan Bedah Buku

Identitas, Agama dan Migrasi

FISIPDaring. Masalah identitas dan agama tampaknya menarik perhatian khususnya dalam studi antropologi, apalagi dikaitkan dengan budaya lokal di sebuat tempat seperti budaya merantau. Itulah yang kiranya membuat Dr, Minako Sakai, senior lecturer dalam studi Indonesia di UNSW, Australia melakukan studinya di suku Gumay, Sumatera Selatan.

Hal itu terungkap dalam Stadium General dan Bedah Buku Identitas, Agama dan Migrasi Pada hari ini Selasa, 26 September 2017. Acara ini bertempat di Auditorium Fisip UIN Jakarta dengan nara sumber Dr. Minako Sakai sendiri dan Dekan FISIP, Prof. Dr. Zulkifli sebagai pembahas. Sebagai seorang antropolog, demikian dikatakan Minako, dia sangat tertarik untuk melakukan penelitian terhadap suku yang belum banyak dilakukan para peneliti, dan memiliki keunikan yang sangat menarik. Suku Gumay merupakan suku yang sangat menarik perhatiannya sehingga bertahun-tahun ia menelitinya.Penelitian Minako itu kemudian dibukukan dan diberi judul “Kacang Tidak Lupa Kulitnya”. Judul dengan kalimat yang cukup unik ini, menurut Minako, diambil dari istilah atau ungkapan yang ada di masyarakat Sumatera Selatan itu sendiri.


Sementara itu nara sumber yang kedua, Zulkiflii memaparkan tentang penting buku Identitas, Agama dan Migrasi tersebut. Menurutnya, sambil mengutip definisi identitas dari Castell, yakni people’primary source of meaning and xxperience”, tema identitas ini penting dalam kajian antrapologi termasuk. Identitas biasanya terkait juga dengan ritual-ritual dari etnis di sejumlah daerah. Contohnya pada etnis Gumay di mana ritual menjadi sumber identitas yang melekat dalam orang-orang Gumay itu. Secara lebih lanjut Zulkifli menjelaskan, problem orang Gumayaantara lain mereka mempunyai masalah terhadap animisme dan agama. Di sini mereka bingung antara mementingkan Agama dahulu atau Adat dahulu. Terlihat sekali pertentangan antara agama dan adat itu sendiri. Tetapi justeru hal ini menjadi menarik didiskusikan dalam buku ini.

Studium general dan diskusi yang dimoderatori oleh Dr, Dzurriyatun Toyyibah, Wakil Dekan I FISIP itu dihadiri oleh sekitar dua ratus mahasiswa FISIP. Selain itu hadir pula sejumlah dosen dari IPB yang pernah melakukan kunjungan studi ke Australia (reza/dimas/iding)

24 Oktober 2017
Informasi - Kegiatan - Detail

Stadium General dan Bedah Buku Identitas, Agama dan Migrasi

26 September 2017

Stadium General dan Bedah Buku

Identitas, Agama dan Migrasi

FISIPDaring. Masalah identitas dan agama tampaknya menarik perhatian khususnya dalam studi antropologi, apalagi dikaitkan dengan budaya lokal di sebuat tempat seperti budaya merantau. Itulah yang kiranya membuat Dr, Minako Sakai, senior lecturer dalam studi Indonesia di UNSW, Australia melakukan studinya di suku Gumay, Sumatera Selatan.

Hal itu terungkap dalam Stadium General dan Bedah Buku Identitas, Agama dan Migrasi Pada hari ini Selasa, 26 September 2017. Acara ini bertempat di Auditorium Fisip UIN Jakarta dengan nara sumber Dr. Minako Sakai sendiri dan Dekan FISIP, Prof. Dr. Zulkifli sebagai pembahas. Sebagai seorang antropolog, demikian dikatakan Minako, dia sangat tertarik untuk melakukan penelitian terhadap suku yang belum banyak dilakukan para peneliti, dan memiliki keunikan yang sangat menarik. Suku Gumay merupakan suku yang sangat menarik perhatiannya sehingga bertahun-tahun ia menelitinya.Penelitian Minako itu kemudian dibukukan dan diberi judul “Kacang Tidak Lupa Kulitnya”. Judul dengan kalimat yang cukup unik ini, menurut Minako, diambil dari istilah atau ungkapan yang ada di masyarakat Sumatera Selatan itu sendiri.


Sementara itu nara sumber yang kedua, Zulkiflii memaparkan tentang penting buku Identitas, Agama dan Migrasi tersebut. Menurutnya, sambil mengutip definisi identitas dari Castell, yakni people’primary source of meaning and xxperience”, tema identitas ini penting dalam kajian antrapologi termasuk. Identitas biasanya terkait juga dengan ritual-ritual dari etnis di sejumlah daerah. Contohnya pada etnis Gumay di mana ritual menjadi sumber identitas yang melekat dalam orang-orang Gumay itu. Secara lebih lanjut Zulkifli menjelaskan, problem orang Gumayaantara lain mereka mempunyai masalah terhadap animisme dan agama. Di sini mereka bingung antara mementingkan Agama dahulu atau Adat dahulu. Terlihat sekali pertentangan antara agama dan adat itu sendiri. Tetapi justeru hal ini menjadi menarik didiskusikan dalam buku ini.

Studium general dan diskusi yang dimoderatori oleh Dr, Dzurriyatun Toyyibah, Wakil Dekan I FISIP itu dihadiri oleh sekitar dua ratus mahasiswa FISIP. Selain itu hadir pula sejumlah dosen dari IPB yang pernah melakukan kunjungan studi ke Australia (reza/dimas/iding)